Obsesi

Jam lima pagi, mungkin orang lain masih kedinginan di balik selimutnya, tapi aku sudah gerah setelah menyiapkan semua keperluan anak-anak. Seragam, sarapan, bekal, sepatu, sekarang tinggal mengantar mereka satu per satu.

Jalanan masih lengang, itu yang aku takutkan. Anakku yang besar perempuan, aku harus mengantarnya berjalan kaki sampai ke jalan raya.

Ini untuk penghematan, daripada naik ojek lima ribu setiap hari pergi pulang dikali satu bulan kalau dijumlah bisa untuk bayaran sekolah.

Kadang terbersit juga rasa iri melihat mereka yang berangkat kerja tampak rapi dan wangi, tapi aku kubur perasaan itu, sejak awal aku memilih untuk mengurus anak-anak dan meninggalkan anganku bekerja seperti layaknya perempuan kota.

Sekarang setelah suamiku terkena PHK, terbersit keinginan untuk mencari penghasilan sendiri tapi belum juga kutemukan jalan.

Setelah anakku menyeberang dan naik angkot, aku bergegas pulang seperti atlet jalan cepat, Jam enam kurang lima, anakku yang kedua sudah rapi dan aku berangkat lagi.
Jam setengah tujuh aku mandikan si kecil dan demi menghemat waktu aku menyuapinya sambil berjalan kaki, aku sudah menghitung seperti biasa, sebelum sampai jalan raya sarapannya sudah habis di mulutnya.

Angkot penuh anak sekolah, aku gerah dan punggungku basah, aku tidak harus malu dengan penampilanku, kostum jogingku membantuku.

Kulepas si bungsu setelah bertemu bu guru, aku menyeberang lurus ke depan lewat jalan tikus yang tembus ke perumahan mewah di bawah sana.

*****

Sebenarnya aku tidak sengaja menemukan jalur ini, aku hanya ingin pulang berhemat dengan jalan kaki sambil menggenapkan langkahku hingga sepuluh ribu seperti iklan di televisi.

Lewat jalan raya terlalu ramai dan polusi. Jadi aku memilih lewat perumahan ini yang teduh sambil memandang rumah yang bagus dan besar, sangat kontras dengan pemandangan di kampung atas.

Rumah-rumah petak berhimpitan tidak beraturan, jemuran berkibar memenuhi gang, anak-anak balita berlarian sambil membawa selembar uang seribuan berebut jajanan, Ibu-ibu merubung warung nasi uduk, tukang bubur juga tukang sayur.

Aku berhitung membayangkan uang yang mereka belanjakan setiap pagi, nasi uduk atau bubur ayam kali jumlah anggota keluarga, pagi-pagi begini sudah jajan berapa? Karena itu aku tidak membiasakan anakku jajan dan aku selalu menyiapkan sarapan dan bekal untuk mereka.

Aku menghela nafas, apa yang aku pikirkan? Itu urusan orang, tapi otakku tidak bisa diajak kompromi setiap melihat sesuatu yang menurutku pemborosan, dalam bayanganku adalah hitungan uang yang harus dikeluarkan dan dug! Aku terpental ke aspal.
Aku merasa seperti manabrak sesuatu, mataku nanar, yang terlihat hanya samar-samar sepertinya sebuah mobil yang sedang keluar.

‘’Maaf, Ibu tidak apa-apa?” seorang laki-laki keluar dari pintu mobil. Aku seperti pernah melihatnya.

Dari dalam pagar keluar perempuan cantik dan terlihat lebih tua sedikit, mungkin kakaknya .

“Mari, Bu. Biar saya bantu,” perempuan itu mendekatiku. aku berusaha bangun dan langsung melangkah lagi..

“Terima kasih, maaf saya buru-buru,” aku mencoba tersenyum.

“Kalau begitu sekalian saja, suami saya juga mau keluar,” perempuan itu tersenyum.
Suami?.

“Iya, Bu. Silakan,” Sang nyonya membukakan pintu kiri untukku.

Aduh bagaimana ini? Aku tidak kenal mereka. Walaupun kelihatannya baik, tapi aku khawatir juga.

Aku sering melihat bapak perlente ini, di rumah sebelah yang merangkap salon kecantikan dengan program pelangsingan yang menggiurkan tapi tidak mungkin terjangkau kantongku yang pas-pasan.

Siapa yang tidak kepengen cantik dan langsing, tapi ongkosnya pasti mahal. Jadi aku tidak berhak berkhayal, hanya bisa menonton orang yang mondar-mandir bergantian.
Aku tidak pernah iri dengan kehidupan seperti itu, mereka tampak seperti boneka hidup yang dipajang, orang memandang silau tapi tidak tahu persis apa yang terjadi di dalam.

“Sepertinya saya pernah melihat Ibu.” Sang suami membuka percakapan setelah mobil berjalan meninggalkan istrinya yang melambai dengan seribu pesan.

“Rumah saya di sebelah salon Bu Nina,”jawabku sopan.

“Hebat juga ya, Ibu bisa joging sampai ke sini.”

Kalau saja dia tahu aku olah raga untuk menghemat ongkos juga. “Anak saya sekolah dekat sini.”

“Berapa putra Ibu?”

“Tiga.”

“Bapak?”

Ya ampun, macam petugas sensus saja.

“Baru kena PHK.” Jujur aku menjawab, toh akhirnya nanti dia tahu juga dari tetangga.

“Wah pasti berat ya, Bu. Mungkin saya bisa bantu?”

“Maksud Bapak?”

“Maaf, berapa nomor rekening Ibu?” tanyanya sambil membuka hp.

“Kosong enam tujuh satu lima… Tunggu dulu, maksud bapak?” untung otakku langsung curiga.

“Maaf, Bu. Bukan maksud saya…”

“Terima kasih, tolong turunkan saya di sini.” Aku bergegas turun dan masuk jalan yang diportal untuk menghindar. Aku tidak mau terlibat urusan asmara orang.

Mimpi apa aku semalam? Aku memang perlu uang, tapi kalau harus bungkam untuk urusan yang runyam dan bisa bikin perang…, huh! Mending aku puasa.dan jalan agar bisa berhemat sekaligus sehat.

Apa mungkin aku sudah gila atau sok kaya, menolak rezeki yang datang tanpa dinyana, sebab kalau dipikir-pikir enak juga kali ya dapat uang tanpa harus membanting tulang, tapi apa halal? Ah, aku ini mikir apa?

Sambil berjalan, aku menghitung sisa uang. Masih bisa untuk belanja hari ini, tapi untuk ongkos anak-anak besok pagi?

Aku masih punya sedikit tabungan, aku mampir ke pasar swalayan, masih sepi jadi aku tidak harus mengantri di mesin ATM, Aku langsung cek saldoku, takut berkurang dan tidak bisa diambil lagi.

Aku perhatikan deretan angka-angka yang berbaris rapi dengan awalan angka satu, lima dan di belakang angka nolnya banyak amat? Apa aku tidak salah lihat? Aku langsung tekan cancel dan meninggalkan mesin ATM dengan hati berdebar-debar.

Apa mungkin orang tadi? Dengan telebanking dia bisa mentransfer uang sambil menyetir. Enak juga ya jadi orang kaya, tinggal pencet semuanya beres.

Kalau benar aku dibantunya setiap bulan dengan jumlah sebanyak ini aku tidak akan kelimpungan lagi memikirkan ongkos anak-anak setiap hari. Mimpi kali! Tapi aneh, tidak sedikit pun aku tertarik untuk mengambil uang yang bukan hakku.

Apa dari adikku di kampung? Aku memang punya sedikit bagian warisan yang digarap adikku dan aku mendapat separo dari hasil panen, tapi tidak mungkin sebanyak ini.

Aku terus berpikir dan otakku yang selalu berhitung setiap melihat angka, kali ini pensiun, tidak tertarik menghitung, malah bingung. Kalau ternyata orang salah kirim misalnya, bagaimana menggantinya? Dipenjara? Hi! Aku pilih pulang saja.

Sampai di depan gang aku heran melihat kerumunan orang dan kulihat ada mobil patroli, ada apa ini? Tampak polisi keluar dari pintu samping salon menggiring rombongan laki-laki dan perempuan yang tampak kepayahan seperti habis begadang semalaman.

Dari Pak RT aku mendapat jawaban ternyata rumah salon ini hanya kedok untuk menutupi perjudian terselubung dan peredaran narkoba.

Program pelangsingan itu ternyata dengan nyabu sebagai obat penahan lapar. Apanya yang langsing dan cantik kalau jadi ketagihan dan sekarang jadi urusan sama yang berwajib, masuk bui, terus apalagi? Hi…

Nyabu? Otakku kembali berputar menghitung angka-angka berapa kiranya yang mereka habiskan untuk semua ini.

Kalau aku yang senang berhitung tapi tak punya banyak uang untuk dihitung, jangankan nyabu obat terlarang beneran, nyabu nyarap bubur saja menurutku masih terhitung mahal. Coba dikali jumlah penghuni rumah, uangnya bisa untuk beli beras dan lauknya.
Diantara rombongan yang digiring polisi, terlihat Bapak yang tadi. Aduh Ibu, bagaimana ini? Nanti kalau diselidiki dan rekeningnya diperiksa, ternyata ada aliran dana ke rekeningku terus aku juga kena?

Sambil menyelinap diantara kerumunan aku lari ke rumah, terdengar dering telepon, aku makin deg-degan jangan-jangan…

“De, tolongin aku ya...” Ternyata kakakku di seberang, anaknya diterima di PTN di Jakarta, tapi dia tidak bisa mengantar karena mertuanya sakit.

Untung aku tidak main sikat, kege-eran terima rekening gelap. Tapi setidaknya aku lega terlepas dari sangkaku disuap berondong lewat.

*****

Satu dua tiga… Aku jalan pagi seperti biasa sepulang mengantar si kecil sekolah dan aku masih penasaran dengan nyonya kaya yang dikibuli suaminya itu.

Tapi yang kulihat tidak seperti yang kubayangkan. Tidak ada nyonya yang bengong melolong, yang ada justru sebaliknya, suara tawa kemenangan dari laki-laki yang kemarin tampak pucat pasi di mobil patroli.

Ah, pasti dia orang yang sangat sakti sampai bisa keluar dari bui sebelum pagi, atau istrinya yang kaya bisa membayar dukun yang sakti mandraguna, atau…. Aku bergegas melangkah menjauhi mereka.

Besok aku akan mencari jalur lain, mungkin aku akan menemukan cerita yang lain lagi. Siapa tahu aku bisa menemukan jalan mencari rezeki yang halal tanpa meninggalkan kewajiban menjaga anak-anak supaya aku tidak lagi berkhayal mendapat kiriman uang nyasar dari orang yang tidak di kenal.

Mudah-mudahan.

Amien.
*****

Pml, 05-8-07.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Free Website templatesFree Flash TemplatesFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates